Senin, 03 Oktober 2011

SEGENGGAM CINTA (2)


Hanya dalam angan ku. Ya! Sebab, sosok yang bisa membuka hatiku hanya ada dalam bayang ilusi ku. Kurniawan Rendi Saputra. Begitulah nama lengkapnya, yang ada dalam raut wajahnya sebenarnya tidak begitu berlebihan. Hidungnya tidak mancung, hanya kelihat bangir jika memperhatikan bibirnya hanya seperti sebuah garis. Alisya juga tidak tebal seperti semut beriring namun cukup kelihatan hitam bila memperhatikan kulitnya yang putih bersih. Cuma yang membuatnya keren adalah senyumnya yang amat memikat. Rendi adalah tipe yang seperti itu. Bau parfum ditubuhnya juga hanya samar-samar. Cuma, yang membuatku selalu ingat dengannya adalah caranya meyakinkanku akan kekuatan cinta ini.

Hidupku tidak seindah dulu. Canda tawa yang biasa ada kini hanya jauh dalam angan semata. Entah bagaimana aku harus menyikapinya, aku sama sekali tidak bisa melupakannya. Bahkan, butir-butir cinta masih tersimpan rapi di relung hati ini.

“Rin…, sudahlah, jangan menangis terus. Kalau kamu seperti ini terus kamu akan sakit.” kata ibu sambil memegang bahuku.

Aku hanya diam. Air mata yang ku teteskan mengucur semakin deras. Ibu memang tidak pernah mau mengerti bagaimana perasaanku. Yang ada dalam benaknya hanya harta dan tahta. Ibu selalu beranggapan bahwa dengan uang semua bisa di beli dan di capai, termasuk harus mengorbankan cinta suciku. Mimpi-mimpi indah yang kurajut bersama Rendi telah karam bersama kepingan cinta malam itu. Meskipun Rendi hanya anak tukang tempe, tapi aku tidak pernah membedakan setatus sosial kami. Namun ternyata takdir berkata lain, perbedaan setatus telah membuat cintaku hancur.

“Ibu ambilkan makan ya. Dari kemarin kamu belum makan. Ibu khawatir nanti kamu sakit.” ucapnya lagi.

“Biar saja Rini sakit, biar cepet mati. Biar ibu nggak maksa Rini untuk menikah dengan laki-laki yang nggak Rini cintai. Rini capek bu. Rini udah dewasa, bukan anak kecil lagi yang bisa ibu atur kehidupannya. Ibu seharusnya tau, gimana sakitnya perasaanku.” Air mataku semakin berderai deras.

“Rin…, ibu melakukan ini semua untuk kebaikan kamu, nak. Karna ayah dan ibu sayang sama kamu. Ibu ingin kamu bahgia, Rin”.

“Bu. Apa ibu bisa menjamin kalau Rini menikah dengan Rico akan bahagia. Yang mau menikah dan menjalankan kehidupan itu Rini, Bu. Jadi Rini berhak menentukan hidup Rini sendiri, dengan siapa dan bagaimana Rini bisa nyaman dan bahagia, bukan ibu yang menentukan. Rini kecewa sama ibu. Yang ada di fikiran ibu hanya uang, uang, dan uang.” kataku agak kasar. Ibu hanya diam. Aku meninggalkannya begitu saja.

“Rini! Kamu mau kemana, nak!”

Teriakan ibu sama sekali tidak membuat langkah kakiku terhenti. Yang ada aku semakin kecewa dengan keputusan ibu. Langkah kakiku masih menelusuri jalan berbatu kasar itu. Aku berhenti sejenak, melihat tempat bersejarah dalam hidupku. Ya! Tentu saja bersejarah. Sebab di pantai inilah aku pertama kali bertemu dengan Rendi. Dan disinilah aku menemukan cinta suci itu. Namun semua hanya tinggal kenangan. Kenangan indah yang pahit untuk dilupakan. Air mata yang membasahi pipiku semakin deras mengiringi pilunya hati ini. Tubuh kurusku hanya mampu bersandar pada sebatang pohon cemara ini. Mampukah aku melewati semua ini? Aku tidak yakin bisa menjalaninya. Bayang wajahnya selalu hadir dalam asa cintaku. Batinku dalam kesedihan itu.

Matahari yang biasanya memanas kini mulai meleleh di ufuk barat. Tak ubahnya bagai bola baja yang mencair. Seolah mengetahui keadaan cintaku yang telah redup.

***

“Rini…, kamu dari mana aja, nak.” tanya ibu terkejut.

“Apa ibu masih perduli dengan keadaan Rini.” ucapku sambil menuju ke kamar.

“Rini. Rin, Rini, buka pintuya, nak. Ibu mau bicara.” kata ibu sambil mengetuk pintu kamarku.

“Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, Bu.” teriakku dari dalam kamar.

“Tapi, Rin,”

“Sudalah, Bu. Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi.” kataku menjelaskan. Mungkin sikapku kepada ibu bukanlah sikap yang terpuji. Namun hati ini tidak mampu menahan kekecewaan itu. Hatiku sudah terlanjur hancur. Rasanya tidak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini jika hanya ada bayang semu yang tidak mungkin ku miliki.

Hari-hari pun berlalu begitu saja. Dengan sejuta angan dan harapan, aku menjalani hidup tanpa Rendi. Berharap ia segera datang memenuhi janji sucinya. Keadaan ku semakin terpuruk. Tubuh geringku hanya mampu berbaring kering di atas ranjang rumah sakit. Rasanya tubuh ini tidak mampu menahan gejolak yang telah ada. Hanya segenggam cinta dari Rendi yang mampu membuatku bertahan hidup hingga saat ini.

“Rin…,” suaranya nyaring. Sepertinya tidak asing lagi ditelingaku.

“Siapa?” aku bertanya sambil melongokkan kepalaku kearah sumber suara. Sesosok tubuh ramping berdiri tegap tepat di depan pintu. Aku mendadak heran. Kukernyitkan dahiku dan menatapny dalam-dalam. Aku masih tidak percaya akan hadirnya. Air matanya menggenang. “Rendi.”

“iya, Rin. Ini aku. Aku akan memenuhi janjiku untuk kembali kepadamu.” Ucapnya sambil berjalan mendekatiku.

“Rendi.” Aku mengulangi menyebut namanya. Aku masih terheran dengan hadirnya. Semua bagaikan mimpi.

“kamu, kamu kok ada disini,” tutur kataku masih lemah.

“Kekuatan cinta kita yang membwaku kesini, Rin.” Rendi menatapku dalam-dalam. Air mata yang menggenang, menetes di pipinya. Air mataku akhirnya menetes juga.

“Kamu memenuhi janji itu, Ren.”

“Iya, Rin.”

Aku buru-buru menarik tanganku dari genggamannya. “Bagaimana dengan orang tuaku?” aku mulai cemas. Rendi tersenyum kecil.

“Rin…, ma’afkan ibu, nak.” Suaranya mencairkan suasana hatiku yang beku.

“Ibu…” kembali kulongokkan kepalaku kearahnya.

“Ibu tidak pernah menyangka semua akan menjadi seperti ini. Ibu sadar apa yang sudah ibu lakukan ini salah.
Ternyata kekuata cinta kalian bisa membuka mata ibu bahwa harta dan tahta bukanlah segalanya.” Air matanya berderai deras. Langkahnya yang pasti mulai mendekatiku. “Ma’afkan ibu ya Rin,” ibu memelukku dengan penuh penyesalan.

“Iya, bu. Rini sudah memaafkan ibu sejak lama.” Sambil mengusap air matanya yang berderai, aku menenangkan ibu.

“Ibu merestui hubungan kalian.” Ditariknya tangan Rendi pelan-pelan. Rendi tersenyum bahagia. Tanganku ditariknya pula. ibu menyatukan tanganku dan tangan Rendi. “Kalian pantas bahagia. Ucapnya pelan.

“Terimakah, bu.” Ternyata kekuatan cinta bisa mengalahkan kerasnya hati orang tua ku. Batinku bahagia.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tinggalkan jejak ya...